Pages

Showing posts with label #31HariMenulis. Show all posts
Showing posts with label #31HariMenulis. Show all posts

Sunday, May 24, 2015

Begini Saja Bahagia

Setelah melewatkan perform mas-mas ahseeek Mata Jiwa, sekaligus gagal nonton Boarding Room, Mocca, Maliq pun Naif saya merasa harus memberikan asupan kebahagiaan di malam Minggu kemarin. Ternyata Sri merasakan hal yang sama. Gayung bersambut kembali terjadi antara saya dan Sri. Gayung bersambut yang kesekian kali ini mengantarkan kami menuju hari terakhir perhelatan kesenian Forum Musik Tembi yang sayang sekali untuk dilewatkan.

Perjalanan kami ke selatan dimulai sejak pukul 20.00. Sudah lumayan kemalaman menuju Tembi yang memakan waktu sekitar 45 menit ditambah dengan padatnya jalanan. Namun, tetap tidak menyurutkan harapan kami untuk mendapatkan kesenangan di belahan Jogja bagian selatan. 

Singkat cerita, sampailah kami di Tembi. Setelah menyapa Butet dan Enggar yang bertugas menjadi mba-mba media center, kami pun segera menuju amphitheater. Kami tidak dapat memasuki amphitheater karena sudah penuh dan hanya bisa melihat panggung melalui sebuah layar yang disediakan oleh panitia. Saat kami tiba, acara sudah sampai pada pembacaan mereka yang masuk dalam cd kompilasi FoMbi, yang berarti acara sepertinya akan segera usai. Kami berdua bersiap untuk kecewa karena harapan kami sepertinya akan sirna.

Disaat sedang gelisah mendiskusikan nasib kebahagiaan kami malam itu, membuat rencana-rencana alternatif tempat tujuan yang asik selanjutnya. Kemudian, mas Gundhi mc malam itu mengumumkan bahwa masih ada perform dari Individual Life. Waaaah senang sekali rasanya. Semesta mendengar keluh kita, harapan kami tak sia-sia ternyata. Wkwk. 

Satu persatu musik instrumental dimainkan, kami mulai hanyut dalam buaian nada-nada yang mengayun lembut kemudian perlahan meninggi dan menggairahkan. Orang-orang bilang eargasm. Ya seperti itulah sekiranya. Akhirnya, kebahagian datang kepada kami yang nekat dan tak sungkan untuk membuat sebuah harapan sekaligus bersiap dengan segala resiko kekecewaan. Hahahaha oposih. Yaudah, gitu aja ya cerita malam Minggu saya dan Sri. Semoga malam Minggu kalian kemarin juga bahagia ^^ 

Emang kamu keliatan panggungnya, Sri? | Keliatan dikit kok, dari sela-sela kaki orang-orang yg berdiri...




#31HariMenulis #5

Saturday, May 23, 2015

Hilang




Dia memang bukan wanita pertama yang membuatku jatuh cinta. Sebentar, aku belum yakin bahwa aku benar-benar jatuh cinta. Mungkin sekedar kagum. Tapi sepertinya lebih dari itu. Tiga tahun sudah aku secara diam-diam mendambakannya. Nyaliku jauh dibawah kadar minimal yang seharusnya dimiliki oleh seorang laki-laki. 

Sebelumnya, aku tidak pernah merasakan jatuh hati sedalam ini, bahkan hingga aku sendiripun tak berani menunjukkan kepada wanita itu. Kudengar memang dia masih sendiri. Ya mungkin pria-pria yang lain sama denganku, minder dengan dirinya yang terlalu tinggi untuk digapai. Ramah, periang, berprestasi dan sekaligus misterius. Aku tak pernah berhenti untuk diam-diam mencari tau tentangnya. Hingga berujung sebuah harapan yang terlalu riskan untuk dijadikan sebuah harapan.

“Hahahaha kupikir kau ini orang yang paling rasional yang pernah kutemui.” gelak tawa mengejek mengikuti ucapannya.

Aku tersenyum getir mendengar respon sahabatku itu. Seorang pribadi yang sangat lugas sekaligus keras. Mungkin bagi orang yang belum mengenalnya lebih jauh ia terkesan seperti berandalan yang masuk dalam daftar pencarian orang. Sehingga untuk berkenalan dengannya saja pasti enggan. 

Bagiku dia adalah sahabat sekaligus rekan bisnis terbaik yang pernah kumiliki. Kami bersahabat sejak SD sekaligus tetanggaku di rumah yang lama. Sejak kecil ia telah banyak makan pahitnya hidup. Namun, ia selalu memiliki perspektif lain bagaimana ia memandang sebuah fase kehidupan. Tak jarang pemikirannya pun cenderung aneh. Ia akan berubah menjadi sangat bijaksana ketika alkohol meninggikan akalnya. 

“Hah diam kau. Udah ah,  mau balik aja.” sembari berkemas, mematikan rokokku kemudian meneguk kopi yang tersisa.
“Etdaaaah, baru juga jam segini. Mau ngapain siiih? “ tanyanya.

Sudah 4 jam kami berada di cafe ini, sebuah cafe tua yang menjadi tempat langganan kami sedari duduk di bangku SMA. Desain yang minimalis, dengan furnitur berbahan dasar kayu jati, lampu kuning redup dan sepi karena jauh dari jalan besar yang riuh dengan bising suara kendaraan. Menjadikan tempat ini nyaman untuk dijadikan tempat berbincang 

 “Mau nyari rasional, kali nyelip di kamar. Puas?” jawabku kemudian beranjak berdiri, mengenakan tas selempangku seraya melemparkan kotak rokok kearahnya.
“Hahahahahaha bye. Tiati yeee.” Sahutnya diselingi tawa.

Ia menangkap dengan gesit bungkus rokok yang kulemparkan padanya seraya menaikkan alisnya dengan wajah sarkas menatapku. Kemudian kembali menenggak segelas bir, entah sudah botol keberapa.




#31HariMenulis #4 #fiksi

Friday, May 22, 2015

It's always been you


You used to have me your best services when I come to you. Like I was the only Princess live in this world. Everything you served to pleased me. You did anyways to make me happy. I knew you did much effort to stop my crying and eat the afternoon snack.

I love the way you told me a story before I slept

I love the way you combed my hair

I love your cook

I love learned cooking with you

I love the way you cared to people around you

I love the way you called me diahku pusmeong :’D


If somebody ask me bout my favorite inspirational people, the answer must be you. I learnt many things from you. Your lived was dedicated to your family and society. How you always shared your opinion and ideas to make a better life. Your concern in social and environment make many people get inspired. You did much, till you forgot that your body no longer strong and young as your soul.That’s the time when you have a rest for a while, I couldn’t believe that you would have a rest forever. You left me, you left all of us. Couldn’t feel anything at that time. I stood on my knees, and hugged by my mom. That was the first time, I lost someone I really love. It’s hurt, but feeling relieved because you would no longer felt the pain.

Whenever I come to your house,it  feels like you were still there. Welcomed me, asked me to eat and ask me to sleepover when I asked permission to go back home. You left before I could thanks for everything you gave me in 19 years. I feel sorry for not always be there when you sick, I just couldn’t see you hurt by the pain. Even I didn’t use my chance to hug you for the last time, I didn’t want my tears dropped to your smiling face.

You were loving and caring people, so that many people will always remember your kindness, loyalty and dedication. They sent you their best prayer, hope you always get happiness there. You’ll always in our heart, our prayer. I’m so happy ever having you around and thank God for give me lots of precious time with you.


“Simbah, apa kabar? Sudah seribu hari lho, mbah.”

“Aku kangen makan sambel bikinan simbah hehe.”


#31HariMenulis #3 




Thursday, May 21, 2015

Bersandar






Diantara pacuan detik-detik yang semakin memburu, ia memutuskan untuk bersandar sebentar. Istirahat. Hari ini terlalu banyak hal yang membuatnya harus memaksa otaknya untuk bekerja keras menyelesaikan berbagai tuntutan pekerjaan. Ia masih menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Tepat 3 minggu ia bekerja di sebuah majalah remaja, ini adalah pengalaman bekerja keduanya setelah sebelumnya ia bekerja paruh waktu di cafe milik pamannya.

Hanya ia sendiri di ruangan segi panjang itu, yang lainnya sedang istirahat makan siang di foodcourt seberang jalan. Ia memilih untuk menitipkan makanannya, walaupun  cacing-cacing diperutnya telah merengek untuk diberikan asupan. Sudah telalu lelah baginya untuk berjalan, ia memilih untuk menikmati lapar yang kian membelit. 

Ia mengamati ruangan disekitarnya, masih sepi dan terdengar lagu milik Cranberries yang berasal  dari salah satu PC di ruangan sebelah. Matanya mulai terpejam, sesekali tangan dan kakinya bergoyang mengikuti irama lagu yang kebetulan adalah band favoritnya. Lalu ditengah reff yang kedua, lagunya berhenti dan diikuti sebuah suara seperti benda jatuh. Ia tidak mempedulikannya, sembari mengecek ponselnya yang bergetar. Ada notif email masuk dari salah satu kliennya yang sedikit membuatnya jengkel pagi tadi. Ia hanya menghela napas kemudian kembali memejamkan mata dan menaikkan kedua tangannya untuk kembali bersandar ke tembok putih itu. 

Terdengar kembali lagu yang belum selasai tadi, dan kini ia merasa ada seseorang yang duduk disebelahnya. Ia membuka matanya dan menoleh ke samping kiri, benar saja ada seorang wanita yang tengah duduk disebelahnya. Wanita itu menoleh kearahnya, dengan ekspresi datar dan muka yang pucat pasi. Segera ia beranjak, kemudian bergegas menyusul teman-temannya ke foodcourt seberang.

#31HariMenulis #2 #fiksi #cerpen